RSS
Facebook
Twitter

Sunday, 3 May 2015


Satu satunya manusia yang bukan Nabi, bukan pula Rasul tapi kisah hidupnya diabadikan dalam Al Qur'an adalah Lukman Al Hakim. Kenapa, tak lain, karena hidupnya penuh hikmah . 

Suatu hari ia pernah menasehati anaknya tentang hidup . 

Anakku, jika makanan telah memenuhi perutmu, maka akan matilah pikiran dan kebijaksanaanmu. Semua anggota badanmu akan malas untuk melakukan ibadah, dan hilang pulalah ketulusan dan kebersihan hati. Padahal hanya dengan hati bersih manusia bisa menikmati lezatnya berdzikir anakku, kalau sejak kecil engkau rajin belajar dan menuntut ilmu. Dewasa kelak engkau akan memetik buahnya dan menikmatinya . 

Anakku, ikutlah engkau pada orang
-orang yang sedang menggotong jenazah, jangan kau ikut orang orang yang hendak pergi ke pesta pernikahan. Karena jenazah akan mengingatkan engkau pada kehidupan yang akan datang. Sedangkan pesta pernikahan akan membangkitkan nafsu duniamu.

Anakku, aku sudah pernah memikul batu
-batu besar, aku juga sudah mengangkat besi-besi berat. Tapi tidak pernah kurasakan sesuatu yang lebih berat daripada tangan yang buruk peragainya. 

Ana
kku, aku sudah merasakan semua benda yang pahit. Tapi tidak pernah kurasakan yang lebih pahit dari kemiskinan dan kehinaan. 

Anakku, aku sudah mengalami penderitaan dan bermacam kesusahan. Tetapi aku belum pernah merasakan penderitaan yang lebih susah daripada menanggung hutang
.

 Anakku, sepanjang hidupku aku berpegang pada delapan wasiat para Nabi. Kalimat itu adalah: 

1
. Jika kau beribadah pada Allah, jagalah pikirannmu baik-baik 

2
. Jika kau berada di rumah orang lain, maka jagalah pandanganmu.

3
. Jika kau berada di tengah-tengah majelis, jagalah lidahmu. 

4
. Jika kau hadir dalam jamuan makan, jagalah peragaimu.

5
. Ingatlah Allah selalu. 

6
. Ingatlah maut yang akan menjemputmu.

7
. Lupakan budi baik yang kau kerjakan pada orang lain. 

8
. Lupakan semua kesalahan orang lain terhadapmu.


Sunday, 19 April 2015


Al Qur’an telah menyebutkan nama Kota Babilonia bersamaan dengan penyebutan dua nama yang cukup misterius, Harut dan Marut. Siapakah Harut dan Marut dan apa hubungan antara mereka dengan negeri Babilonia?

Riwayat Imam Ahmad bin Hanbal dalam musnad-nya menyatakan, bahwa Rasulullah sallallahu‘alaihi wa sallam bersabda “Ketika Allah Subhanallahu wa Ta’ala menurunkan Nabi Adam ke bumi, malaikat berkata ‘Wahai Rabb, mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang senantiasa berbuat kerusakan dan menumpahkan darah di sana, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan mensucikan-Mu?’”

Allah Subhanallahu wa Ta’ala menjawab, “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al Baqarah: 30).

Para malaikat lalu berkata lagi, “Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami lebih taat kepada-Mu daripada anak-anak Adam.”

Allah Subhanallahu wa Ta’ala pun berfirman, “Pilihlah dua malaikat yang terbaik untuk Kami turunkan ke bumi, sehingga kami dapat melihat apa yang mampu mereka berdua lakukan.”

Para malaikat berkata, “Wahai Rabb, kami memilih Harut dan Marut.”

Keduanya lalu diturunkan ke bumi dilengkapi dengan semua hal yang dimiliki manusia, termasuk nafsu syahwat. Setelah di bumi, kedua malaikat tersebut bertemu dengan wanita yang sangat cantik. Kedua malaikat itu pun menginginkan perempuan tersebut, namun di jawab oleh perempuan itu, “Tidak, sebelum kalian mengucapkan ucapan syirik ini.”

Kedua malaikat itu berkata, “Tidak, demi Allah, kami tidak akan mempersekutukan Allah selamanya.”
Perempuan itupun kemudian pergi, dan kembali lagi sambil menggendong seorang anak kecil. Kedua malaikat itu meminta dirinya lagi, tetapi perempuan itu menjawab, “Tidak, sebelum kalian membunuh anak ini.”

Kedua malaikat itu berkata, “Tidak, kami tidak akan membunuh selamanya.”

Perempuan itupun pergi lagi, lalu kembali sambil membawa sekendi khamr (minuman keras). Kedua malaikat itu lagi-lagi meminta dirinya, tetapi perempuan itu menjawab, “Tidak, sebelum kalian meminum khamr ini.”

Kedua malaikat itupun meminumnya hingga mabuk, lalu menggauli perempuan itu dan membunuh anak kecil tadi.

Ketika keduanya sadar, perempuan itu berkata, “Sungguh, saat kalian mabuk kalian telah melakukan perkara-perkara yang tadi kalian enggan melakukanya.” Keduanya di suruh untuk memilih antara siksa dunia dan azab di akhirat, dan mereka memilih siksaan di duni. (HR.Imam Ahmad dalam kitab Al Musnad, Juz 2, Halaman 134, Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)

Diriwayatkan dari Abul Abbas Ahmad bin Mubarak bin Sa’ad dari Abu Ma’ali Tsabit bin Bandar dari Abu Ali bin Dauma dari Abu Ali Al-Baqarhy dari Hasan bin Awaliyah dari Isma’il dari Ishaq bin Bisyr dari Juwaybir dari Dhahak dari Makhul dari Mu’adz berkata bahwa ketika kedua malaikat itu tersadar dari pengaruh khamr, datanglah Malaikat Jibril di utus Allah Ta’ala, keduanya menangis dan Malaikat Jibril pun ikut menangis.

Malaikat Jibril bertanya, “Gerangan musibah apa yang telah membinasakan dan menyengsarakan kalian?”

Harut dan Marut kembali menangis, lalu Malaikat Jibril berkata, “Sesungguhnya Allah memberi kalian antara azab di dunia dan azab di akhirat.”

Kedua malaikat itu sadar bahwa azab di dunia akan berakhir, sedangkan azab di akhirat akan abadi selamanya. Mereka pun yakin bahwa Allah adalah Zat yang Maha Pengasih dan Penyayang kepada hamba-hambanya. Oleh karena itu mereka pun memilih siksaan di dunia dan menggantungkan nasib mereka di akhirat kepada kehendak Allah semata.

Mu’adz berkata, “Keduanya berada di Babilonia di negeri Persia terikat di antara dua buah gunung di goa yang terletak di perut bumi dan terus mendapatkan siksaan sejak permulaan siang hingga petang hari.

Namun perlu diketahui, bahwa menurut beberapa pendapat mengatakan bahwa kisah ini adalah kisah Israiliyat, yaitu berita yang di ambil atau di nukil dari orang Bani Israil, baik yang beragama Yahudi maupun Nasrani.

Sementara menurut Imam Ibnu Hajar mengikuti jejak Imam Ahmad bin Hambal membenarkan kisah tersebut, Imam Al-Baidhawi dan pengikutnya berpendapat bahwa kisah di atashanyalah bualan yang dibuat-buat orang yahudi, dan mereka memilih untuk tidak membenarkannya.

Imam al-Qadhi ‘Ayadh dalam kitab asy-Syifa berkata, “Bahwa apa yang disebutkan oleh para perawi yang dinukil oleh para ahli tafsir tentang kisah Harut dan Marut tidak memiliki arti apa-apa dan tidak benar berasal dari sabda Rasulullah sallallahu‘alaihi wa sallam serta bukan sesuatu yang diambil dari qiyas.”

Kisah serupa dari pendapat yang berbeda selanjutnya akan disambung nanti...

Insyaa Allah...



Kisah Taubatnya Wanita Pezina di Zaman Nabi Musa


Pada suatu senja yang tenang, tampak seorang perempuan muda yang berjalan gontai terhuyung-huyung dengan pakaian serba hitam yang menandakan bahwa ia berada dalam keadaan berduka cita. Kerudungnya yang rapat hampir menutupi seluruh wajahnya tanpa ada perhiasan yang melekat di tubuhnya. Terlihat dari sedikit wajahnya yang terlihat, dia berada dalam kesedihan yang teramat dalam.
Ia berjalan terhuyung-huyung menuju ke tempat kediaman Nabi Musa. Setelah sampai, diketuknya pintu tersebut pelan-pelan sambil mengucapkan salam. Dari dalam rumah, terdengar sambutan dan ucapan untuk mempersilahkan masuk.

Perempuan muda tersebut masuk, namun kepalanya masih menunduk, seakan-akan ada beban yang sangat berat di atasnya. Air matanya mulai jatuh berderai tatkala dia membuka percakapan dengan salah satu Nabi bergelar Ulul Azmi, Nabi Musa ‘alaihissalam.

“Wahai Nabi Allah, tolonglah hamba. Doakanlah hamba agar Allah berkenan mengampuni dosa keji yang telah hamba lakukan.” Ucap perempuan muda tersebut sembari masih menangis.

“Apa dosamu wahai wanita yang bersedih?” Tanya Nabi Musa penasaran, terkejut melihatnya yang tiba-tiba menangis.

“Hamba takut mengatakannya.” Jawab perempuan tersebut.

“Katakanlah, jangan engkau ragu untuk mengatakannya.” Desak Nabi Musa, ingin tahu.

“Hamba telah berzina, dari perzinahan itu hamba hamil. Lantas setelah anak itu lahir, hamba cekik lehernya... hingga tewas.” Perempuan tersebut berucap sambil menangis sejadi-jadinya.

Mendengar cerita perempuan tersebut, Nabi Musa terperanjat, dan sangat marah. Matanya berapi-api. 

Dengan marah, beliau menghardik perempuan itu.
“Wahai perempuan bejat! Enyah kau dari hadapanku! Agar siksa Allah tidak jatuh ke rumahku karena perbuatanmu. Pergi..!!!” Teriak Nabu Musa sembari memalingkan mukanya karena jijik.

Perempuan tersebut sangat kaget mendengar jawaban Nabi Musa. Hatinya hancur bagaikan kaca yang membentur batu yang keras, hancur luluh tak tersisa. Ia lalu keluar dari rumah Nabi Musa, dengan langkah semakin gontai dan terantuk-antuk. Ia tidak tahu lagi mau kemana selanjutnya harus pergi. Jika seorang nabi saja sudah menolaknya, apalagi manusia yang lainnya. Ia mulai membayangkan besarnya dosa yang telah ia perbuat.

Tetapi ia tak tahu apa yang terjadi di kediaman Nabi Musa selepas dia pergi.

Syahdan, Malaikat Jibril datang menemui Nabi Musa. Sang malaikat pembawa wahyu tersebut lalu bertanya kepada Nabi Musa,
“Mengapa engkau menolak perempuan yang hendak bertaubat dari dosanya? Tidakkah engkau lebih tahu dosa yang lebih besar daripada dosa yang telah perempuan itu lakukan?” Tanya Malaikat Jibril.

“Dosa apakah yang lebih besar dari perbuatan keji perempuan yang berzina dan membunuh itu?” Tanya Nabi Musa, kaget.

“Betulkah ada dosa yang lebih besar dari dosa perempuan nista itu?” Tanya Nabi Musa lagi, mencoba meyakinkan.

“Ada!” Jawab Malaikat Jibril tegas.
“Yaitu, orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja tanpa menyesal, besar dosanya melebihi seribu kali berzina.” Lanjutnya.

Mendengar penjelasan Malaikat Jibril, Nabi Musa menyadari kekeliruannya. Beliau kemudian memanggil kembali perempuan muda tersebut untuk menghadap lagi padanya. Setelah perempuan muda yang hendak bertaubat sudah di depannnya, Ia mengangkat tangan dengan khusyuk untuk memohon ampunan kepada Allah bagi perempuan tersebut. 

Nabi Musa menyadari bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja dan tanpa penyesalan, sama saja berpendapat bahwa Tuhan tidak bisa mengatur mereka, seakan itu merupakan hal remeh dan tidak wajib. Sedangkan bagi mereka yang bersungguh-sungguh bertaubat dan menyesali dosanya, maka ia masih mempunyai iman di dalam hatinya dan percaya bahwa bertaubat kepada Allah itu merupakan jalan ketaatan kepada-Nya. Itulah sebabnya Allah pasti mau menerima taubatnya.


Wednesday, 7 January 2015


Sebagian orang ada yang menuduh Rasulullah Nuh ‘alaihissalam bukanlah seorang Rasul yang sabar menghadapi kaumnya, padahal Allah sendiri menggelarinya ulul azmi di antara para rasul. Alasan orang-orang yang menuduh Nabi Nuh tidak sabar karena Nabi Nuh memintakan adzab kepada Allah untuk kaumnya.

Mari pahami alur kisahnya, mengapa Nabi Nuh mengucapkan demikian, sehingga kita tidak berburuk sangka kepada utusan Allah yang mulia.

Kaum Nuh adalah kaum yang ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak hanya melakukan kekufuran, mereka juga senantiasa menantang Nabi Nuh untuk mendatangkan adzab sebagai bukti kebenaran dakwahnya itu. Mereka mengatakan,

*يَا نُوحُ قَدْ جَادَلْتَنَا فَأَكْثَرْتَ جِدَالَنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِين*َ

“Hai Nuh,sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami adzab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” (QS. Hud: 32)

Namun Nabi Nuh tetap bersabar dan tidak membalas perkataan mereka dengan meng-iya-kannya atau meanggapinya dengan ancaman, beliau hanya mengatakan bahwa keputusan adzab bukanlah kehendaknya, melainkan hanya kehendak Allah semata.

*قَالَ إِنَّمَا يَأْتِيكُمْ بِهِ اللَّهُ إِنْ شَاءَ وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِين*َ

Nuh menjawab,“Hanyalah Allah yang akan mendatangkan azab itu kepadamu jika Dia menghendaki, dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri”. (QS. Hud: 33)

Nabi Nuh yang telah berdakwah selama 950 tahun, tidak hanya di siang hari namun juga di malam hari beliau tidak berhenti menyeru kaumnya. Selama masa yang panjang itu pula beliau bersabar atas gangguan fisik maupun psikis yang ia terima.

قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا

Nuh berkata:"Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam, namun seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). (QS. Nuh: 6-7)

Tidak hanya menolak seruan Nabi Nuh, mereka pun mengejeknya dengan menutupi telinga-telinga mereka.

وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا

“Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya)dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.” (QS. Nuh: 8)

Allah Ta’ala pun menanggapi kaum Nuh yang sangat melampaui batas ini dengan berfirman, mengabarkan kepada Rasulullah Nuh ‘alaihi ash-shalatu wa as-salam bahwa tidak ada lagi kaumnya yang akan beriman kepadanya

*وَأُوحِيَ إِلَىٰ نُوحٍ أَنَّهُ لَنْ يُؤْمِنَ مِنْ قَوْمِكَ إِلَّا مَنْ قَدْ آمَنَ فَلَا تَبْتَئِسْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُون*َ

“Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Hud: 36)

Artinya, tidak akan ada lagi yang akan beriman kepada seruanmu setelah 9 orang yang telah mengikutimu.

Mendengar firman Allah ini, Nuh sadar Allah akan segera menurunkan adzab-Nya kepada kaumnya.

وَقَالَ نُوحٌ رَبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا. إِنَّكَ إِنْ تَذَرْهُمْ يُضِلُّوا عِبَادَكَ وَلَا يَلِدُوا إِلَّا فَاجِرًا كَفَّارًا

“(Jika demikian) Rabb-ku, maka jangan engkau sisakan seorang pun orang kafir di atas bumi ini. Jika Engkau membiarkan mereka, pastilah mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu (yang lain), dan mereka pun akan melahirkan keturunan yang senantiasa berbuat dosa dan kekufuran.” (QS. Nuh: 26-27)

Demikianlah syariat terdahulu, ketika sebuah kaum melakukan dosa dan melampaui batas, maka Allah akan menurunkan adzab-Nya langsung di dunia dengan membinasakan mereka. Lihatlah kaum ‘Add umat Nabi Hud, ketika mereka ingkar dan terus-menerus menyomobongkan diri, Allah binasakan mereka dengan angin topan. Umat Nabi Luth, Allah buat mereka binasa dengan menghujani batu api dari langit kemudian membalikkan bumi yang mereka pijak.  Bangsa Madyan, umat Nabi Syuaib Allah hancurkan mereka dengan suara guntur yang menggelgar sehingga mereka tewas seketika seolah-olah tidak pernah ada orang yang tinggal di daerah itu sebelumnya. Firaun, Qarun, dll. Allah segerakan adzab mereka di dunia dan nanti adzab yang lebih besar di akhirat.

Berbeda dengan umat Nabi Muhammad yang Allah utamakan atas umat lainnya, Allah tunda adzab-Nya di akhirat kelak, dan memperpanjang masa bagi umat Muhammad agar berpikir dan bertaubat. Semua itu Allah lakukan dengan hikmah dan ilmu-Nya, dan hendaknya kita bersyukur atas hal ini.

Dan akhirnya adzab yang mereka nanti-nantikan itu datang, langit menurunkan air yang sangat deras dan bumi pun mengeluarkan air yang melimpah. Bumi pun menjadi lautan yang sangat besar, yang ombaknya saja setinggi gunung.

*وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَال*ِ

“Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung.” (QS. Hud: 42)

Demikianlah Allah menetapkan takdir untuk kaum Nabi Nuh.

9 Jenis Anak Syaitan


UMAR AL-KHATTAB berkata ada 9 JENIS KUMPULAN ANAK SYAITAN.

1. ZAITUUN - Duduk di pasar/kedai mengoda manusia supaya berbelanja lebih dan membeli barangan tidak perlu dan sifat jimat cermat.

2. WATHIIN - Pergi kepada orang yang dapat musibbah supaya bersangka buruk terhadap Allah SWT. 

3. A'AWAN - Mengasut Raja/Sultan/Pemerintag supaya tidak mendekati rakyat. Seronok dengan kedudukan, kekayaan hingga terabai kebajikan rakyat dan tidak mahu mendengar nasihat para ulama.

4. HAFFAH - Berkawan baik dengan peminum arak. Suka menghampiri orang yang berada di tempat maksiat (disko, kelab malam dan tempat yang ada minuman keras.

5. MURRAH - Merosak dan melalaikan ahli dan orang yang sukakan muzik sehingga lupa kepada Allah. Mereka ini tenggelam dalam keseronokan dan dunia glamour.

6. MASAUD - Duduk di bibir mulut manusia supaya melahirkan fitnah, gossip, mengumpat akan apa saja penyakit yang mula dari kata-kata mulut manusia.

7. DASSIM - Duduk di pintu rumah kita Jika tidak memberi salam ketika masuk ke dalam rumah, ianya akan bertindak agar berlaku keruntuhan rumah tangga (suami/isteri bercerai), suami bertindak ganas memukul isteri, isteri hilang pertimbangan penuntut cerai, anak-anak didera dan pelbagai kemusnahan rumahtangga.

8. WALAHAAN - Menimbulkan rasa was-was dalam diri manusia khususnya ketika berwudud, solat dan menjejas ibadat-ibadat lain.

9. LAKHUUS - Merupakan sahabat baik orang Majusi yang menyembah Api/Matahari. 

Akhir sekai IBLIS - Bapa syaitan yang sentiasa ada mengoda manusia membuat jahat dan maksiat kepada Allah SWT. Oleh itu berwaspada dengan akhlak kepada Allah; akhlak dirisendiri; akhlak sesama manusia dan akhlak dengan makhluk Allah yang lain. Al Quran adalah panduan dan akhlak Nabi Muhammad SAW. Ikuti ajarannya dan perintah Allah. Al Mulk. Wallahu Wa'alam. Amiin Yarabbal Alamiin. 

Istri yang Menyejukkan Hati


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Sebaris kisah ini dapat menjadi inspirasi bagi seorang istri yang ingin menjadi perhiasan terindah dunia dan bidadarinya akhirat  yaitu wanita shalihah. Semoga melalui kisah ini dapat menjadi inspirasi bagi seseorang yang mendambakan keluarga sakinah mawadah wa rahmah yang diridhai oleh Allah  ‘Azza wa jalla 

Ia menceritakan pengalamannya:

“Ketika aku menikahi Zainab binti Hudair aku berkata dalam hati: Aku telah menikah dengan seorang wanita Arab yang paling keras dan paling kaku tabiatnya. Aku teringat tabiat wanita-wanita bani Tamim dan kerasnya hati mereka. Aku berkeinginan untuk menceraikannya. Kemudian aku berkata (dalam hati): “Aku pergauli dulu (yaitu menikah dan berhubungan dengannya), jika aku dapati apa yang aku suka, aku tahan ia. Dan jika tidak, aku ceraikan ia.”

Kemudian datanglah wanita-wanita bani Tamim mengantarkannya. Dan setelah ditempatkan dalam rumah, aku berkata, “Wahai fulanah, sesungguhnya menurut sunnah apabila seorang wanita masuk menemui suaminya hendaklah si suami shalat dua rakaat dan si istri juga shalat dua rakaat.”

Akupun bangkit mengerjakan shalat kemudian aku menoleh ke belakang ternyata ia ikut shalat di belakangku. Seusai shalat para budak-budak wanita pengiringnya datang dan mengambil pakaianku dan memakaikan padaku pakaian tidur yang telah dicelup dengan za’faran.

Dan tatkala rumah sudah kosong, aku mendekatinya dan aku ulurkan tanganku kepadanya. Ia berkata, “Tahan dulu (sabar dulu).”

Aku berkata dalam hati, “Satu malapetaka telah menimpa diriku.” (yakni musibah telah menimpa dirinya)

Lalu ia memuji Allah kemudian memanjatkan shalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Aku adalah seorang wanita Arab. Demi Allah, aku tidak pernah melangkah kecuali kepada perkara yang diridhai Allah. Dan engkau adalah lelaki asing, aku tidak mengenali perilakumu (yakni aku belum mengenal tabiatmu).

Beritahulah kepadaku apa saja yang engkau suka hingga aku akan melakukannya dan apa saja yang engkau benci hingga aku bisa menghindarinya.”

Aku berkata kepadanya, “Aku suka begini dan begini (Syuraih menyebutkan satu persatu perkataan, perbuatan, makanan dan segala sesuatu yang disukainya) dan aku benci begini dan begini (Syuraih menyebutkan semua perkara yang ia benci).”

Ia berkata lagi, “Beritahukan kepadaku siapa saja anggota keluargaku yang engkau suka bila ia mengunjungimu?”

Aku (Syuraih) berkata, “Aku adalah seorang qadhi, aku tidak suka mereka (anggota keluargamu) membuatku bosan.”

Maka akupun melewati malam yang paling indah, dan aku tidur tiga malam bersamanya. Kemudian aku keluar menuju majelis qadha’, dan aku tidak melewati satu hari melainkan hari itu lebih baik daripada hari sebelumnya.

Tibalah waktu kunjungan mertua.

Yaitu genap satu tahun (setelah berumah tangga).

Aku masuk ke dalam rumahku. Aku dapati seorang wanita tua sedang menyuruh dan melarang.

Aku bertanya, “Hai Zainab, siapakah wanita ini?”

Istriku menjawab, “Ia adalah ibuku.”

“Marhaban”, sahutku.

Ia (ibu mertua) berkata, “Bagaimana keadaanmu hai Abu Umayyah?”

“Alhamdulillah baik-baik saja”, jawabku.

“Bagaimana keadaan istrimu?” Tanyanya.

Aku menjawab, “Istri yang paling baik dan teman yang paling cocok. Ia mendidik dengan baik dan membimbing adab dengan baik pula.”

Ia berkata, “Sesungguhnya seorang wanita tidak akan terlihat dalam kondisi yang paling buruk tabiatnya kecuali pada dua keadaan: Apabila sudah punya kedudukan di sisi suaminya dan apabila telah melahirkan anak. Apabila engkau melihat sesuatu yang tak mengenakkan padanya pukul saja. Karena, tidaklah kaum lelaki memperoleh sesuatu yang lebih buruk dalam rumahnya selain wanita warhaa’ (yaitu wanita yang tidak punya kepandaian dalam melakukan tugasnya).

Syuraih berkata, “Ibu mertuaku datang setiap tahun sekali kemudian ia pergi sesudah bertanya kepadaku tentang apa yang engkau sukai dari kunjungan keluarga istrimu ke rumahmu?”

Aku menjawab pertanyaannya, “Sekehendak mereka!” Yaitu sesuka mereka saja.

Aku hidup bersamanya selama dua puluh tahun, aku tidak pernah sekalipun mencelanya dan aku tidak pernah marah terhadapnya.”

Dikutip dari buku Agar Suami Cemburu Padamu karya Dr. Najla’ As-Sayyid Nayil, penerbit Pustaka At-Tibyan.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
  • Blogger news

  • Blogroll

  • About