RSS
Facebook
Twitter

Sunday, 19 April 2015


Al Qur’an telah menyebutkan nama Kota Babilonia bersamaan dengan penyebutan dua nama yang cukup misterius, Harut dan Marut. Siapakah Harut dan Marut dan apa hubungan antara mereka dengan negeri Babilonia?

Riwayat Imam Ahmad bin Hanbal dalam musnad-nya menyatakan, bahwa Rasulullah sallallahu‘alaihi wa sallam bersabda “Ketika Allah Subhanallahu wa Ta’ala menurunkan Nabi Adam ke bumi, malaikat berkata ‘Wahai Rabb, mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang senantiasa berbuat kerusakan dan menumpahkan darah di sana, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan mensucikan-Mu?’”

Allah Subhanallahu wa Ta’ala menjawab, “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al Baqarah: 30).

Para malaikat lalu berkata lagi, “Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami lebih taat kepada-Mu daripada anak-anak Adam.”

Allah Subhanallahu wa Ta’ala pun berfirman, “Pilihlah dua malaikat yang terbaik untuk Kami turunkan ke bumi, sehingga kami dapat melihat apa yang mampu mereka berdua lakukan.”

Para malaikat berkata, “Wahai Rabb, kami memilih Harut dan Marut.”

Keduanya lalu diturunkan ke bumi dilengkapi dengan semua hal yang dimiliki manusia, termasuk nafsu syahwat. Setelah di bumi, kedua malaikat tersebut bertemu dengan wanita yang sangat cantik. Kedua malaikat itu pun menginginkan perempuan tersebut, namun di jawab oleh perempuan itu, “Tidak, sebelum kalian mengucapkan ucapan syirik ini.”

Kedua malaikat itu berkata, “Tidak, demi Allah, kami tidak akan mempersekutukan Allah selamanya.”
Perempuan itupun kemudian pergi, dan kembali lagi sambil menggendong seorang anak kecil. Kedua malaikat itu meminta dirinya lagi, tetapi perempuan itu menjawab, “Tidak, sebelum kalian membunuh anak ini.”

Kedua malaikat itu berkata, “Tidak, kami tidak akan membunuh selamanya.”

Perempuan itupun pergi lagi, lalu kembali sambil membawa sekendi khamr (minuman keras). Kedua malaikat itu lagi-lagi meminta dirinya, tetapi perempuan itu menjawab, “Tidak, sebelum kalian meminum khamr ini.”

Kedua malaikat itupun meminumnya hingga mabuk, lalu menggauli perempuan itu dan membunuh anak kecil tadi.

Ketika keduanya sadar, perempuan itu berkata, “Sungguh, saat kalian mabuk kalian telah melakukan perkara-perkara yang tadi kalian enggan melakukanya.” Keduanya di suruh untuk memilih antara siksa dunia dan azab di akhirat, dan mereka memilih siksaan di duni. (HR.Imam Ahmad dalam kitab Al Musnad, Juz 2, Halaman 134, Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)

Diriwayatkan dari Abul Abbas Ahmad bin Mubarak bin Sa’ad dari Abu Ma’ali Tsabit bin Bandar dari Abu Ali bin Dauma dari Abu Ali Al-Baqarhy dari Hasan bin Awaliyah dari Isma’il dari Ishaq bin Bisyr dari Juwaybir dari Dhahak dari Makhul dari Mu’adz berkata bahwa ketika kedua malaikat itu tersadar dari pengaruh khamr, datanglah Malaikat Jibril di utus Allah Ta’ala, keduanya menangis dan Malaikat Jibril pun ikut menangis.

Malaikat Jibril bertanya, “Gerangan musibah apa yang telah membinasakan dan menyengsarakan kalian?”

Harut dan Marut kembali menangis, lalu Malaikat Jibril berkata, “Sesungguhnya Allah memberi kalian antara azab di dunia dan azab di akhirat.”

Kedua malaikat itu sadar bahwa azab di dunia akan berakhir, sedangkan azab di akhirat akan abadi selamanya. Mereka pun yakin bahwa Allah adalah Zat yang Maha Pengasih dan Penyayang kepada hamba-hambanya. Oleh karena itu mereka pun memilih siksaan di dunia dan menggantungkan nasib mereka di akhirat kepada kehendak Allah semata.

Mu’adz berkata, “Keduanya berada di Babilonia di negeri Persia terikat di antara dua buah gunung di goa yang terletak di perut bumi dan terus mendapatkan siksaan sejak permulaan siang hingga petang hari.

Namun perlu diketahui, bahwa menurut beberapa pendapat mengatakan bahwa kisah ini adalah kisah Israiliyat, yaitu berita yang di ambil atau di nukil dari orang Bani Israil, baik yang beragama Yahudi maupun Nasrani.

Sementara menurut Imam Ibnu Hajar mengikuti jejak Imam Ahmad bin Hambal membenarkan kisah tersebut, Imam Al-Baidhawi dan pengikutnya berpendapat bahwa kisah di atashanyalah bualan yang dibuat-buat orang yahudi, dan mereka memilih untuk tidak membenarkannya.

Imam al-Qadhi ‘Ayadh dalam kitab asy-Syifa berkata, “Bahwa apa yang disebutkan oleh para perawi yang dinukil oleh para ahli tafsir tentang kisah Harut dan Marut tidak memiliki arti apa-apa dan tidak benar berasal dari sabda Rasulullah sallallahu‘alaihi wa sallam serta bukan sesuatu yang diambil dari qiyas.”

Kisah serupa dari pendapat yang berbeda selanjutnya akan disambung nanti...

Insyaa Allah...



0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
  • Blogger news

  • Blogroll

  • About