Al Qur’an telah menyebutkan
nama Kota Babilonia bersamaan dengan penyebutan dua nama yang cukup misterius,
Harut dan Marut. Siapakah Harut dan Marut dan apa hubungan antara mereka dengan
negeri Babilonia?
Riwayat Imam Ahmad bin Hanbal
dalam musnad-nya menyatakan, bahwa Rasulullah sallallahu‘alaihi wa sallam bersabda “Ketika Allah Subhanallahu wa Ta’ala menurunkan Nabi
Adam ke bumi, malaikat berkata ‘Wahai Rabb, mengapa Engkau hendak menjadikan
(khalifah) di bumi itu orang yang senantiasa berbuat kerusakan dan menumpahkan
darah di sana, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan
mensucikan-Mu?’”
Allah Subhanallahu wa Ta’ala menjawab, “Sesungguhnya aku mengetahui apa
yang tidak kamu ketahui.” (Al Baqarah: 30).
Para malaikat lalu berkata
lagi, “Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami lebih taat kepada-Mu daripada
anak-anak Adam.”
Allah Subhanallahu wa Ta’ala pun berfirman, “Pilihlah dua malaikat yang
terbaik untuk Kami turunkan ke bumi, sehingga kami dapat melihat apa yang mampu
mereka berdua lakukan.”
Para malaikat berkata, “Wahai
Rabb, kami memilih Harut dan Marut.”
Keduanya lalu diturunkan ke
bumi dilengkapi dengan semua hal yang dimiliki manusia, termasuk nafsu syahwat.
Setelah di bumi, kedua malaikat tersebut bertemu dengan wanita yang sangat
cantik. Kedua malaikat itu pun menginginkan perempuan tersebut, namun di jawab
oleh perempuan itu, “Tidak, sebelum kalian mengucapkan ucapan syirik ini.”
Kedua malaikat itu berkata, “Tidak,
demi Allah, kami tidak akan mempersekutukan Allah selamanya.”
Perempuan itupun kemudian
pergi, dan kembali lagi sambil menggendong seorang anak kecil. Kedua malaikat
itu meminta dirinya lagi, tetapi perempuan itu menjawab, “Tidak, sebelum kalian
membunuh anak ini.”
Kedua malaikat itu berkata, “Tidak,
kami tidak akan membunuh selamanya.”
Perempuan itupun pergi lagi,
lalu kembali sambil membawa sekendi khamr (minuman keras). Kedua malaikat itu
lagi-lagi meminta dirinya, tetapi perempuan itu menjawab, “Tidak, sebelum
kalian meminum khamr ini.”
Kedua malaikat itupun
meminumnya hingga mabuk, lalu menggauli perempuan itu dan membunuh anak kecil
tadi.
Ketika keduanya sadar,
perempuan itu berkata, “Sungguh, saat kalian mabuk kalian telah melakukan
perkara-perkara yang tadi kalian enggan melakukanya.” Keduanya di suruh untuk
memilih antara siksa dunia dan azab di akhirat, dan mereka memilih siksaan di
duni. (HR.Imam Ahmad dalam kitab Al Musnad, Juz 2, Halaman 134, Ibnu Hibban dalam
kitab shahihnya)
Diriwayatkan dari Abul Abbas
Ahmad bin Mubarak bin Sa’ad dari Abu Ma’ali Tsabit bin Bandar dari Abu Ali bin
Dauma dari Abu Ali Al-Baqarhy dari Hasan bin Awaliyah dari Isma’il dari Ishaq
bin Bisyr dari Juwaybir dari Dhahak dari Makhul dari Mu’adz berkata bahwa
ketika kedua malaikat itu tersadar dari pengaruh khamr, datanglah Malaikat
Jibril di utus Allah Ta’ala, keduanya menangis dan Malaikat Jibril pun ikut
menangis.
Malaikat Jibril bertanya, “Gerangan
musibah apa yang telah membinasakan dan menyengsarakan kalian?”
Harut dan Marut kembali
menangis, lalu Malaikat Jibril berkata, “Sesungguhnya Allah memberi kalian
antara azab di dunia dan azab di akhirat.”
Kedua malaikat itu sadar bahwa
azab di dunia akan berakhir, sedangkan azab di akhirat akan abadi selamanya. Mereka
pun yakin bahwa Allah adalah Zat yang Maha Pengasih dan Penyayang kepada
hamba-hambanya. Oleh karena itu mereka pun memilih siksaan di dunia dan
menggantungkan nasib mereka di akhirat kepada kehendak Allah semata.
Mu’adz berkata, “Keduanya
berada di Babilonia di negeri Persia terikat di antara dua buah gunung di goa
yang terletak di perut bumi dan terus mendapatkan siksaan sejak permulaan siang
hingga petang hari.
Namun perlu diketahui, bahwa menurut
beberapa pendapat mengatakan bahwa kisah ini adalah kisah Israiliyat, yaitu
berita yang di ambil atau di nukil dari orang Bani Israil, baik yang beragama
Yahudi maupun Nasrani.
Sementara menurut Imam Ibnu
Hajar mengikuti jejak Imam Ahmad bin Hambal membenarkan kisah tersebut, Imam
Al-Baidhawi dan pengikutnya berpendapat bahwa kisah di atashanyalah bualan yang
dibuat-buat orang yahudi, dan mereka memilih untuk tidak membenarkannya.
Imam al-Qadhi ‘Ayadh dalam
kitab asy-Syifa berkata, “Bahwa apa yang disebutkan oleh para perawi yang
dinukil oleh para ahli tafsir tentang kisah Harut dan Marut tidak memiliki arti
apa-apa dan tidak benar berasal dari sabda Rasulullah sallallahu‘alaihi wa sallam serta bukan sesuatu yang diambil dari
qiyas.”
Kisah serupa dari pendapat
yang berbeda selanjutnya akan disambung nanti...
Insyaa Allah...


