Dikisahkan,
seorang alim yang bertetangga dengan seorang pelacur. Setiap kali orang alim
ini memandang rumah sang pelacur, dalam pikirannya yang terbayang/ terlintas
adalah sang pelacur itu pasti selalu melakukan perbuatan mesum. Prasangka buruk
itu selalu terlintas dibenaknya setiap kali dia teringat akan si pelacur
tersebut.
Prasangka itu sudah merasuk kedalam jiwanya, sehingga dia sangat
membenci dan jijik dengan pelacur tersebut. Ingin rasanya dia mengusir dari
samping rumahnya, namun dia sangat dikenal sebagai orang yang bijak dan adil
dalam mengambil keputusan. Sehingga keputusan untuk mengusir dari samping
rumahnya dibatalkan karena takut dinilai masyarakat dia tidak bijak dalam
memutuskan.
Namun
sebaliknya, Jika sang pelacur melihat rumah orang alim tadi, hatinya selalu
bergejolak dan bergetar. Penyesalan dan tangisan yang mendalam selalu tersimpan
dalam hatinya. Batinnya selalu berdo’a :
“Betapa
Mulianya Engkau ya Allah, memiliki hamba yang alim dan bijaksana seperti
tetanggaku ini, sementara aku bergelimang dengan lumuran dosa. Dia menjadi
orang yang disegani dan dihormati dengan masyarakat. Banyak orang dari berbagai
pelosok berkunjung ke rumahnya, menimba ilmu serta memohon do’a restu darinya.“
“Ya Allah, aku
sangat ingin seperti dirinya, hidup terhormat, disegani dan jauh dari dosa
serta perbuatan maksiat. Ya Allah, tunjukkan aku pada jalan-Mu yang benar,
mudahkanlah keinginanku ini, dan janganlah Engkau biarkan aku dalam keadaaan
tersesat seperti ini.“
Demikianlah
pikiran dari sang pelacur tadi. Setiap hari jika sang pelacur ini melihat rumah
tetangganya, dia selalu berdo’a dan selalu berpikiran baik untuk dirinya. Dia
sangat kagum, takjub, senang dan bangga terhadap perilaku seorang yang alim
tadi. Namun prasangka seorang yang alim tadi justru sebaliknya, dia semakin
geram dan benci saja dengan tetangganya tersebut.
Pendek cerita,
tibalah hari pembalasan.
Orang alim
tersebut diseret oleh malaikat ke pintu neraka. Dia protes “ Kalian pasti salah,
coba buka kembali catatan amal dan ibadahku selama ini “. Malaikatpun membuka
dan membacakannya, “ Betul sekali engkau tercatat sebagai seorang yang saleh
dan alim. Buku ini penuh dengan rekaman amal dan kebajikanmu. Tetapi satu hal
yang membuat Allah murka dan tidak ridha denganmu, engkau selalu melihat orang
lain dengan prasangka burukmu. Contoh nyatanya, seorang pelacur tetanggamu,
selalu kau lihat dengan penuh kebencian dan tanpa belas kasihan sedikitpun.
Lupakah engkau bahwa Allah menciptakan surga dan neraka untuk hambanya. Dia
yang lebih berhak menentukan hambanya ditempatkan pada Surga atau Neraka“.
Sementara
disisi lain, seorang pelacur tadi justru diantarkan malaikat menuju pintu
Surga. Dia pun protes seperti halnya seorang yang alim tadi, “Apakah kalian
tidak salah dalam membaca catatan amal ibadahku? Sepertinya
aku tidak tepat di tempatkan di Surga. Bukankah saya lebih banyak berbuat dosa
dan maksiat selama di dunia?“. Lalu malaikat menjawab, “Ada satu hal kecil yang
nampaknya sepele tapi sering diabaikan manusia, justru itu yang membuat Allah
ridha dengan perilaku hambanya. Engkau selalu menaruh harapan yang baik kepada
Allah dan selalu Khusnudzon terhadap sesama manusia. Ketahuilah Allah
menciptakan Surga dan neraka untuk hambanya yang terpilih. Dialah yang lebih
berhak untuk menentukannya.“



0 comments:
Post a Comment